Merdeka di Pintu Imlek

Jumat, 12 Februari 2021

Dari kiri; Suryana, Datuk Gunawan, Pangeran Simanjuntak, dan Solina Lumbantoruan.
Dari kiri; Suryana, Datuk Gunawan, Pangeran Simanjuntak, dan Solina Lumbantoruan. (ist/onlinejambi.com)

SIANG yang terik, lalu lalang  kendaraan  dan bisingnya kota sedikit menggoyahkan langkah saya bersama seorang  pemuka yang punya hobi baru blusukan  di tengah pandemi. Masker N95  yang saya kenakan basah sudah, semakin membuat enggan menerobos hiruk pikuk ini, meski menangkal barikadenya di dalam mobil putih mewah ini.

Siang itu saya menemani  wakil rakyat ribet ini menyambangi kediaman seorang  yang menurutnya harus didengar kisahnya sehari sebelum Imlek, Kamis, 11 Februari 2021.

Memasuki komplek pertokoan di Jalan Madura,  tidak ada kesan khusus selain  “ini rumah orang Cina” ditambah lagi teriknya matahari membuat rasa malas turun, begitu tak tahu malu, sampai-sampai wakil rakyat ini akhirnya mengambil inisiatif turun dari mobilnya lebih dulu dan menyapa empunya rumah toko. Entah apa yang dibicarakan, kami diizinkan masuk.

Tugasku di sini hanyalah mencatat apapun yang dibicarakan dalam kunjungan ini, gumamku sebelum memasuki teras rumah, sambil duduk di kursi kuning di sudut kaki limanya. Aku duduk dan dikejutkan dengan suara “Merdeka” dengan pengucapan yang sudah kurang tepat dengan pelafalan huruf “r”yang sudah berbunyi konsonan “l”.

Seorang pria berseragam Veteran lengkap, berdiri tegap mengepalkan tangan tanda semangat, meski dua kancing baju paling bawah tak sempat dikancing. Dia tertawa dan menyambut kami di teras rumahnya, di kursi singgasananya.

Wajah Tionghoa ini, mengenakan baju veteran dengan ornamen dinding rumahnya dipenuhi piagam penghargaan  dan foto kenangannya bersama petinggi dari berbagai pelosok negeri.

Dialah Guan San, satu-satunya saksi hidup jatuhnya pesawat  Catalina RI-005, pesawat amfibi  yang dibeli atas inisiatif masyarakat Jambi mengumpulkan hasil bumi seperti emas, karet, dan harta benda pada masa Agresi Militer Belanda II. Harta itu kemudian oleh pejuang dipergunakan untuk menyewa pesawat Catalina dari Australia.  

Siapa sangka saya dipertemukan dengan sosok yang sudah lama ingin saya tulis biografinya ini, dalam kondisi saya tidak siap. Saya  tidak ingin bertemu dalam kondisi seperti ini. Tanpa alat tulis dan buku harian daftar orang penting yang telah saya temui, hanya komputer jinjing pinjaman ini. Tidak, saya tak terima.

Saat duduk dia membuka pembicaraan dengan memberitahukan usianya yang sudah 93 tahun pada 5 Februari lalu. Anehnya pikirannya sangat sehat, seperti tak ada tanda penuaan pada kemampuannya mengingat sesuatu, hanya kulit dan rambutnya saja yang menandakan usianya sudah tak lagi muda.  Dialek khas suku Tionghoa terdengar jelas saat dia bertutur.

Ia menuturkan betapa pesawat Catalina menciptakan banyak kenangan baginya dan bagi sejarah perjuangan rakyat Jambi. Pesawat yang dipakai untuk menembus blokade yang dibuat penjajah mengelilingi Jambi. Pesawat yang membawanya membeli senjata di pasar gelap Singapura. Sebelum akhirnya petualangan pesawat ini terhenti di 29 desember 1948. Replika pesawat itu kini terparkir kokoh di depan Museum Perjuangan Rakyat Jambi.

Kenangan dan kecintaan itulah yang akhirnya membuat Datuk Gunawan, demikian ia disebut merasa terpanggil untuk mengangkat bangkai pesawat Catalina dari dasar sungai Batanghari, desa Sijenjang, Tanjung Johor setelah 43 tahun Catalina mengendap di dasar sungai sebelum akhirnya diangkat pada 1991, perjuangan yang sangat tidak mudah bagi Datuk Gunawan.

Ia harus bolak balik Jakarta menemui sejumlah tokoh untuk dimintai pertimbangannya terkait rencana pencarian bangkai pesawat Catalina. Ia bahkan mengorbankan modal usaha yang seharusnya menjadi bagian putrinya, demi terlaksananya niat mulianya itu.

“Papa bilang nanti dulu, uang ini kita pakai untuk membuat masyarakat  Jambi tahu bahwa mereka punya sejarah perjuangan hebat,” ungkap putrinya, Suryana dengan terharu.

Cinta Datuk Gunawan, pahlawan Jambi bersuku Tionghoa ini menyadarkan saya bahwa di tanah ini, kebencian itu diajarkan, demikian juga dengan cinta kasih.

Datuk mengajarkan anaknya untuk berkorban, kehilangan yang berharga demi kepentingan orang banyak. Apa jadinya jika Datuk tahu bahwa sampai hari ini etnisnya paling banyak mendapat stereotip “orang luar”, apa jadinya jika Datuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan banyak orang di tanah ini, meneriakkan antek aseng di tiap pidatonya.

Datuk Gunawan bukan hanya saksi hidup jatuhnya pesawat Catalina RI-005. Ia juga mejadi saksi  jatuhnya rasa segan orang-orang yang kemerdekaannya diusahakannya dengan keringat air mata, dan nyawanya. Ia juga menjadi saksi hidup pluralisme menjadi bangkai.

Tapi saat ini, saya melihat Datuk akan kembali menjadi saksi. Keanehan yang dilakukan Wakil Rakyat Pangeran Simanjuntak di tengah pandemi ini akan membangkitkan itu semua.Mengunjungi orang usang penuh karisma di sorot matanya, rupanya, ini yang memanggil Wakil Rakyat ini blusukan ke tempat ini.

Datuk akan menjadi saksi keanehan yang membuat milenial modal bual sadar, bahwa keberagaman adalah identitas kita. Sama seperti pesawat Catalina RI-005 diangkat ke permukaan 30 tahun yang lalu, ia adalah idenitas perjuangan.

Tengkorak CO-Pilot “Londa, ditemukan bersamaan dengan diangkatnya bangkai Pesawat Catalina. Cerita ini kemudian mengakhiri bincang-bincang di pintu Imlek kamis itu. Datuk berpesan, hargailah keberagaman. Temanku banyak yang mati demi kamu hidup enak di bangsa ini, jangan tindas orangmu sendiri, jangan jadi pengkhianat, ungkap Datuk sambil merapikan berkas-berkasnya.

Saya ambil bingkisan dari samping kananku, saya sodorkan kepadanya, Datuk ini Parsel dari Saimen, toko kue yang terkenal itu, pemiliknya memberi satu khusus buat Datuk.

Xin Nian Kuai Le Gong Xi Fa Chai, Datuk Gunawan dan yang merayakan, Merdeka di Pintu Imlek.(*)





BERITA BERIKUTNYA
loading...