Candi Muaro Jambi, Destinasi Unggulan yang Belum Unggul

Selasa, 06 Desember 2022

Peserta Media Gathering foto bersama dengan Wakil Gubernur Jambi Abdullah Sani.
Peserta Media Gathering foto bersama dengan Wakil Gubernur Jambi Abdullah Sani. (Ist/onlinejambi.com)

Sebanyak 60 wartawan liputan Pemerintah Provinsi Jambi mengunjungi Candi Muarojambi pada Senin, 5 Desember 2022. Kegiatan ini merupakan rangkaian Media Gathering yang digelar Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jambi. Berikut catatan M Surtan, wartawan Onlinejambi.com yang mengikuti kegiatan tersebut.

----

Peserta Media Gathering tiba di parkiran Candi Muaro Jambi saat terik matahari tepat di pukul 10.45 WIB. Sebanyak 3 bus medium mengangkut rombongan dari berbagai media ini.

Istirahat sejenak sambil makan siang di lokasi parkiran yang teduh karena banyak pepohonan, peserta pun bergerak ke dalam candi. Ada yang menyewa sepeda biasa maupun sepeda listrik, namun lebih banyak yang memilih berjalan kaki meski terik maatahari makin menyengat.

Saat rombongan tiba, kawasan candi sedang dalam proses revitalisasi dan rekonstruksi. Tujuannya mempercantik kawasan candi dengan harapan kunjungan wisatawan makin meningkat. Berjalan kaki sekitar 200 meter dari parkiran, sudah terlihat tukang-tukang sedang bekerja, material bangunan di mana-mana. Truk dan alat berat pun terlihat.

Revitalisasi dan rekonstruksi Kawasan Candi Muaro Jambi menjadi salah salah satu Program Jambi MANTAP (Maju, Aman, Nyaman, Tertib, Amanah dan Profesional) di bawah kepemimpinan Gubernur Jambi Al Haris dan Wakilnya, Abdullah Sani.

Dalam poin nomor 12 Jambi MANTAP disebutkan programnya yakni percepatan pengembangan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Candi Muaro Jambi dan sekitarnya.

Gubernur Jambi, Al Haris sebelumnya sudah menginstruksikan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi untuk menciptakan gagasan yang lebih kreatif dan inovatif guna lebih memajukan kebudayaan dan pariwisata di Provinsi Jambi.

“Kita harus terus membangun sektor kebudayaan dan kepariwisataan, dengan melaksanakan pembangunan destinasi pariwisata Jambi secara sistematis, terpadu, dan berkelanjutan, dengan tetap memberikan perlindungan terhadap nilai-nilai seni, adat-istiadat, budaya, dan agama yang hidup di dalam masyarakat Jambi yang multikultur,” jelas Al Haris.

Pengelolaan Masih Serba Tanggung

Ketua Asosiasi Pelaku Pariwisata Indobnesia (ASPPI) Provinsi Jambi, Herman P Bakara mengatakan sejatinya Candi Muaro Jambi punya potensi menjadi destinasi unggulan Indonesia dengan keunikannya sebagai pusat pendidikan agama Budha terbesar di jamannya.

Hanya saja, katanya, saat ini pengelolaan Candi Muaro Jambi masih serba tanggung, bahkan menertibkan pedagang-pedagang lokal dan jasa angkutan becak saja terkesan tidak mampu.

"Saya berharap ke depan bisa dikelola secara profesional. Kami dari pelaku siap memberikan masukan kalau diajak duduk bersama,” ujarnya.

Sang Karya, Penggerak Desa Wisata Budaya Kreatif juga mengkritik tidak dilibatkannya masyarakat lokal dalam berbagai kegiatan yang digelar di Candi Muaro Jambi.

“Kami seperti penonton di kandang sendiri. Kami tak dilibatkan dalam hal apa pun terkait candi,” keluh pemuda Desa Baru yang merupakan salah satu desa penyangga Candi Muaro Jambi.

Memang, katanya, pembangunan sekarang lebih baik dari dulu. Tapi harus bisa meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

Sang Karya juga berharap ke depan, Candi Muaro Jambi benar-benar dikelola sebagai tempat sejarah, tempat belajar bersama masyarakat.

"Bimbing warga desa, sebab bayak komunitas seperti kami tidak tahu apa-apa dalam kegiatan dan bentuk pengelolaan candi ke depanya,” ujarnya.

Lepas Peserta, Wagub Berharap Ada Masukan

Wakil Gubernur (Wagub) Jambi Abdullah Sani sangat mengapresiasi pelaksanaan media gathering. Dia berharap ada masukan dari kalangan media terkait Candi Muaro Jambi.

Dikatakannya, Candi Muaro Jambi merupakan salah satu destinasi wisata budaya yang harus dilestarikan.

"Sektor pariwisata akan berdampak pada UMKM. Dapat kita lihat di kawasan candi ada penyewaan tikar, sepeda, dan makanan. Ini jelas UMKM akan hidup," ujarnya saat melepas kegiatan ini.

Dia meminta dukungan dari pemerintah pusat tentang keberadaan Candi Muaro Jambi. "Dengan adanya media gathering ke kawasan ini tentunya banyak pemberitaan yang dibuat teman-teman media untuk mempromosikan komplek percandian tertua ini," ujarnya.

Sekilas Tentang Candi Muaro Jambi

Candi Muaro Jambi merupakan sebuah kompleks percandian di Provinsi Jambi yang disebut sebagai peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Kompleks Candi Muaro Jambi memiliki luas mencapai 3.981 hektare dan disebut-sebut sebagai kompleks candi terluas di Indonesia dan Asia Tenggara.

Lokasi Candi Muaro Jambi di Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, atau sekitar 26 kilometer sebelah timur Kota Jambi.

Kompleks Candi Muaro Jambi yang ditemukan pada abad ke-19 ini berada tepat di tepi Sungai Batanghari.
Diperkirakan Candi Muaro Jambi dibangun pada abad 7-12 Masehi. Kuat dugaan kompleks Candi Muaro Jambi peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu.

Kompleks Candi Muaro Jambi pertama kali dilaporkan pada tahun 1824 oleh seorang tentara INggris bernama SC Crooke. Namun, pemugaran kompleks candi ini beru dilakukan oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1975.

Berdasarkan penelitian yang ada, Kompleks Candi Muaro Jambi dulunya merupakan tempat peribadatan sekaligus tempat pendidikan agama Budha.

Kesimpulan tersebut didukung dengan adanya arca dan artefak di Candi Muaro Jambi dengan corak Buddhisme.

Kompleks Candi Muaro Jambi sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya. Bahkan sejak tahun 2009, kompleks ini diajukan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO.

Candi Muaro Jambi merupakan cagar budaya atau situs purbakala terdiri 110 candi dan 85 menapo atau gundukan tanah.

Kompleks ini meliputi percandian, situs permukiman kuno, dan sistem jaringan perairan di masa lalu.

Lokasinya mencakup delapan desa, yaitu Desa Muara Jambi, Desa Danau Lamo, Desa Dusun Baru, Desa Kemingking Luar, Desa Kemingking Dalam, Desa Dusun Mudo, Desa Teluk Jambu, dan Desa Tebat Patah.

Kompleks Candi Muaro Jambi membentang dari barat ke timur di tepian Sungai Batanghari sepanjang 7,5 kilometer. Beberapa candi yang ada di kompleks ini antara lain Candi Gumpung, candi Kedaton, Candi Kembar Batu, Candi Koto Mahligai, Candi Astano, Candi Gedong Dua, Candi Gedong Satu, hingga Telago Rajo.

Selain candi, kompleks ini juga berisi parit atau kanal kuno, kolam tempat penampungan air, serta gundukan tanah yang di dalamnya terdapat susunan bata kuno. Ada beberapa arca yang ditemukan dalam kompleks ini, seperti arca prajnaparamita, arca dwarapala, gajahsimha, umpak batu, lesung batu.

Selain itu juga ada gong perunggu bertuliskan aksara China, mantra Buddha yang ditulis pada kertas emas, keramis asing, tembikar, hingga mata uang China. Sedangkan gundukan-gundukan tanah yang ada di kompleks ini oleh masyarakat sekitar disebut sebagai Bukit sengalo atau Candi Bukit Perak.(*)





BERITA BERIKUTNYA
loading...